Groundbreaking Sudah Dimulai, Mampukah Kolam Retensi Amahami Akhiri Banjir Tahunan Kota Bima?

Buser Official NET. Kota Bima – Upaya memperkuat ketahanan Kota Bima terhadap ancaman banjir terus dilakukan. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara I Mataram bersama Bank Dunia dan Pemerintah Kota Bima resmi melaksanakan groundbreaking pembangunan Kolam Retensi Amahami pada Rabu, 06/08/2026.

Pembangunan ini menjadi salah satu proyek strategis dalam program National Urban Flood Resilience Project (NUFReP) 2023–2028, yang bertujuan mengurangi risiko banjir sekaligus meningkatkan kualitas infrastruktur pengendalian air di wilayah perkotaan.

Example 300x600

Groundbreaking tersebut menandai dimulainya pembangunan salah satu infrastruktur pengendali banjir terbesar di Kota Bima. Proyek ini diharapkan mampu menjadi solusi jangka panjang atas persoalan banjir yang hampir setiap tahun melanda sejumlah kawasan permukiman dan pusat aktivitas masyarakat.

Menariknya, meskipun baru memasuki tahap seremoni peletakan batu pertama, progres fisik pembangunan telah mencapai 20,05 persen. Angka tersebut jauh melampaui target yang ditetapkan sebesar 8,15 persen, dengan deviasi positif mencapai 11,90 persen. Capaian ini menunjukkan pelaksanaan pekerjaan berjalan lebih cepat dari jadwal yang telah direncanakan.

Baca Juga :  Qori Kota Bima Raih Juara I MTQ Internasional Al-Ameed di Irak

Kolam Retensi Amahami dirancang memiliki kapasitas tampung mencapai 36.273 meter kubik. Dengan kapasitas tersebut, kolam retensi diproyeksikan mampu menurunkan luas genangan banjir dari 21,8 hektare menjadi hanya 3,1 hektare, atau berkurang sekitar 85,78 persen. Pengurangan genangan ini diharapkan dapat memberikan perlindungan yang lebih baik bagi kawasan permukiman, fasilitas umum, hingga pusat perekonomian masyarakat saat curah hujan tinggi.

Selain Kolam Retensi Amahami, proyek NUFReP juga mencakup pembangunan Kolam Retensi Taman Ria yang memiliki kapasitas tampung 15.240 meter kubik. Infrastruktur tersebut ditargetkan mampu mengurangi luas genangan hingga 75,17 persen, sehingga kedua kolam retensi ini akan saling melengkapi dalam sistem pengendalian banjir di Kota Bima.

Baca Juga :  Ramadan Berbagi, Ketua TP PKK Kabupaten Bima Kunjungi Pasien di RSUD Bima

Tidak hanya membangun kolam penampung air, proyek ini juga dilengkapi dengan berbagai infrastruktur pendukung modern, seperti pompa pengendali banjir, pintu air, serta SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition) System sebagai sistem pemantauan dan peringatan dini banjir. Kehadiran teknologi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kecepatan respons dalam mengantisipasi potensi banjir, terutama saat intensitas hujan meningkat.

Lebih dari sekadar infrastruktur teknis, kawasan kolam retensi juga dirancang menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan kawasan konservasi air yang dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai ruang publik. Konsep ini diharapkan memberikan manfaat ganda, yakni memperkuat fungsi ekologis kawasan sekaligus menghadirkan ruang rekreasi yang nyaman bagi warga.

<banner 500x600
banner 120x600
Example 400x400