Jalan Baru Menuju Kemandirian Petani, Ir. H. Muhammad Natsir Mendorong Misi Besar Perubahan Durasi Pendapatan Petani Dari Musiman Ke Harian

Buser Official NET, Bima – Upaya menyelaraskan visi bupati dengan arah pembangunan sektor pertanian mulai diarahkan pada satu titik krusial: kemandirian ekonomi daerah. Dinas Pertanian mendorong sektor ini tak lagi sekadar menjadi penopang pangan, tetapi juga mesin pencipta lapangan kerja baru, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan. Selama ini, pendapatan petani cenderung bergantung pada siklus panen tiga bulan, enam bulan, bahkan tahunan. Pola itu dinilai tak lagi cukup menjawab kebutuhan ekonomi rumah tangga petani. Dinas Pertanian kini mengusung gagasan mempersingkat durasi pendapatan, dari musiman menjadi mingguan, bahkan harian.

“Petani harus punya penghasilan rutin, tidak menunggu panen dengan jangka yg lama, kata Kepala Dinas Pertanian.

Example 300x600

Gagasan itu ditopang konsep pertanian terintegrasi, yang menghubungkan sektor produksi dengan kegiatan turunan bernilai ekonomi. Program ketahanan pangan seperti padi dan jagung disebut sudah berada pada level swasembada. Tantangannya kini bukan lagi produksi, melainkan inovasi untuk mempercepat arus pendapatan petani, dengan diversifikasi komoditas, dengan mengembangkan beragam komoditas dalam satu kesatuan lahan dan tetap memberi perhatian serius terhadap penyediaan air sebagai faktor kunci suksesnya produksi pertanian.

Baca Juga :  Realisasi Pendapatan APBD Kabupaten Bima Tahun 2025 mencatat hasil Positif

 

Salah satu yang sedang diuji adalah pengembangan pupuk organik berbasis limbah organik, seperti limbah jagung dan jerami yg sangat melimpah saat ini, dengan memanfaatkan maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai dekomposer. Selain diolah menjadi pupuk, magot memiliki derivat pemanfaatan yang luas untuk mendukung penyediaan pakan lokal untuk perikanan budidaya dan peternakan, persoalan klasik yang sampai saat ini belum bisa diselesaikan karena biaya pakan dalam budidaya perikanan dan peternakan bisa mencapai 60% dari komponen biaya produksi.

Selain itu juga bisa diarahkan sebagai pakan burung walet, komoditas bernilai tinggi yang dinilai bisa menjadi sumber pendapatan alternatif. Bukti empirik awal menunjukkan adanya perbaikan kwalitas dan kwantitas sarang walet setelah di beri pakan BSF.

Baca Juga :  Bupati Bima Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana

Upaya mempersingkat durasi pendapatan petani juga bisa dilakukan dengan introduksi bioteknologi berbasis spirulina yang memiliki kandungan protein sampai 70 % bisa di panen setiap hari, memiliki daya tumbuh yg cepat, nilai ekonomi tinggi dan dapat menjadi pilihan untuk mengatasi masalah stunting. Produksi biomassa lain yang cepat tumbuh seperti azolla mikrophilla dan wolfia yang memiliki derivat pemanfaatan yang beragam, juga harus diintensifkan.

<banner 500x600
banner 120x600