Buser Official NET, Bima – Jalan hotmix di Desa Kore Kecamatan Sanggar Kabupaten Bima, yang menelan anggaran sekitar Rp1,5 miliar dari APBD 2025, rusak parah setelah hantaman banjir. Akibatnya, jalan yang menuju Dermaga Kore ini terkelupas dan terangkat, membuat warga harus memindahkan material aspal ke tepi jalan agar kendaraan bisa melintas.
Kadis PUPR Kabupaten Bima, Taufik, S.T, M.T, yang dikonfirmasi wartawan menjelaskan bahwa proyek ini tidak selesai pada tahun 2025 karena cuaca ekstrim dan banjir yang menghantam daerah tersebut beberapa kali.
Pekerjaan kemudian diaddendum lewat tahun anggaran, dan saat ini masih dalam tahap kontrak. “Belum serah terima pekerjaan dan masih menjadi tanggung jawab kontraktor,” ungkap Kadis PUPR Kabupaten Bima, Taufik, Selasa pagi (24/2/2026).
Data teknis pekerjaan, kata dia, panjang ruas jalan Kore sekitar 628 meter, sementara panjang penanganan 460 meter. Selama pekerjaan, kata dia, ruas jalan tersebut tiga kali mengalami keadaan yang sama, dua kali baru tahap pekerjaan lapisan pondasi dan sekali musibah banjir yang terakhir hingga menyebabkan lapisan penutup/aspal terangkat.
“Jadi jalan hotmix yang rusak kemarin hanya 48 meter dari panjang ruas jalan SP–Jalan Provinsi–TPI Kore sepanjang 628 meter,” imbuhnya.
Taufik menegaskan, penanganan banjir di Kore–Sanggar harus terintegrasi dari hulu ke hilir. Diakuinya, menangani bagian hilir atau dampaknya saja tidak akan menyelesaikan persoalan.
Karena itu, diperlukan integrasi dengan penanganan di wilayah hulu untuk mengurangi air larian di daerah aliran sungai (DAS). Penanganan dengan rekayasa konstruksi dinilai tidak akan efektif apabila kondisi DAS tidak diperbaiki.
Saluran pembuangan yang dibangun pada tahun 2025 bahkan dilaporkan belum setahun sudah dipenuhi sedimentasi. Selama tutupan vegetasi di wilayah DAS tidak dikendalikan, upaya rekayasa konstruksi dinilai akan sia-sia.
“DAS sebagai penyangga wilayah untuk fungsi konservasi harus diaktifkan kembali. Lima tahun terakhir Sanggar tidak pernah mengalami banjir semasif ini. Ini menunjukkan ada fungsi ekosistem yang tidak lagi seimbang,” pungkasnya.








