Buser Official NET, Bima – Bentrokan antarwarga kembali pecah di wilayah Kecamatan Woha, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Rabu (18/3/2026) sekitar pukul 11.30 WITA. Konflik yang melibatkan ratusan warga dari dua desa ini mengakibatkan satu pos pengamanan polisi rusak parah serta sejumlah warga mengalami luka-luka, termasuk satu remaja yang terkena panah nyasar.
Bentrokan terjadi di sejumlah titik, terutama di jalan utama lintas Tente–Parado, tepatnya di sekitar Terminal Tente, depan Bank NTB Syariah, serta area Kantor Koramil Woha. Dua kelompok warga yang terlibat berasal dari Dusun Beringin dan Dusun Bante, Desa Tente, serta melibatkan warga dari Desa Nisa.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, massa dari Dusun Beringin lebih dulu memadati jalan utama menuju Kecamatan Belo. Mereka melakukan aksi blokade di depan Terminal Tente menggunakan balok kayu, batu, dan membakar ban bekas. Aksi tersebut menyebabkan arus lalu lintas lumpuh total dan menimbulkan kepanikan di kalangan masyarakat.

Situasi semakin memanas ketika sejumlah warga bergerak menuju Mapolsek Woha untuk menuntut kejelasan penanganan kasus dugaan pengeroyokan terhadap seorang remaja asal Dusun Beringin. Korban diduga dikeroyok oleh sekelompok remaja dari Dusun Bante beberapa hari sebelumnya.
Namun, pergerakan massa tersebut dihadang oleh kelompok warga dari Dusun Bante di jalan umum. Bentrokan pun tak terhindarkan, ditandai dengan aksi saling lempar batu, kejar-kejaran, hingga penggunaan panah dan senjata tajam yang membuat situasi semakin mencekam.
Akibat insiden tersebut, satu pos pengamanan polisi mengalami kerusakan parah akibat lemparan massa. Selain itu, satu remaja dilaporkan menjadi korban setelah terkena panah nyasar di tengah kericuhan.
Diketahui, konflik ini merupakan lanjutan dari ketegangan yang sudah terjadi sebelumnya. Pada Selasa (17/3/2026), bentrokan serupa juga sempat terjadi. Perselisihan dipicu oleh kasus pengeroyokan yang terjadi beberapa hari lalu di Desa Rabakodo, Kecamatan Woha, yang hingga kini dinilai belum ditangani secara maksimal.
Lambatnya penanganan kasus tersebut diduga memicu kekecewaan warga, khususnya dari Dusun Beringin. Mereka mendesak pihak kepolisian segera memproses laporan yang telah diajukan, bahkan meminta Kapolsek Woha, IPTU Muhtar, untuk mundur dari jabatannya.
Aparat kepolisian dari Polres Bima yang turun ke lokasi berhasil menghalau massa dan mencegah konflik meluas. Untuk meredam situasi, aparat juga melakukan pendekatan persuasif dengan melibatkan tokoh masyarakat setempat.









