Kisah  

Tulang Punggung Keluarga Menjadi Target, Berawal Dari Sebuah Perkenalan Tak Terencana Hingga Kepercayaan Yang Perlahan Dipertaruhkan

“Siapa namanya?” tanya saya.
“Saya Nadia,” jawabnya singkat.
“Oh, jadi kamu Nadia yang selama ini sering diceritakan ke Rita,” kata saya.
Nadia hanya tersenyum tipis. Mungkin dalam hatinya ia menganggap pertanyaan saya sedikit aneh, mengingat kami baru pertama kali bertemu.
Setelah itu, saya melanjutkan perjalanan menuju rumah kontrakan.

Sesampainya kembali, ternyata Nadia sudah masuk ke dalam rumah setelah selesai menikmati hujan.
Pertemuan kami sebenarnya sangat singkat.
Namun, entah mengapa, sosoknya terus terbayang dalam pikiran saya.
Sayangnya, saya tidak memiliki nomor telepon maupun media sosialnya.

Example 300x600

Tidak lama kemudian, Aldi memutuskan untuk pindah ke rumah kerabatnya. Saya sendiri tidak mengetahui lokasi pastinya.
Bima kemudian mengantarkan Aldi, sedangkan saya tetap bersama Rita di rumah Nadia.

Setelah Bima kembali, Rita mengajak saya untuk bermalam di rumah Nadia.
Malam itu, saya mencari alasan untuk memulai percakapan dengan Nadia.
Saya mengatakan bahwa paket internet di ponsel saya telah habis, kemudian menanyakan kata sandi Wi-Fi rumah.
Tanpa berpikir panjang, Nadia yang saat itu berdiri di depan kamar langsung memberitahukan kata sandi Wi-Fi tersebut.

Kesempatan itu saya manfaatkan untuk memberanikan diri meminta nomor telepon Nadia.
Di luar dugaan, Nadia langsung memberikannya tanpa ragu.
Melihat kami mulai berbincang, Bima kemudian menggoda sambil bercanda bahwa saya tampaknya mulai dekat dengan Nadia. Saya langsung menepis candaan tersebut.

“Saya cuma meminta kata sandi Wi-Fi,” jawab saya.
Namun malam itu, setelah semua orang mulai beristirahat, saya memberanikan diri mengirim pesan WhatsApp kepada Nadia.
Di luar dugaan, ia merespons dengan hangat.
Percakapan kami mengalir begitu saja. Tidak terasa, kami mulai membicarakan banyak hal tentang pekerjaan, kehidupan, pengalaman, hingga latar belakang masing-masing.

Ada satu hal yang cukup berat bagi saya untuk disampaikan, yaitu bahwa saya pernah berumah tangga.

Saya sempat khawatir masa lalu tersebut akan membuat Nadia menjauh.
Namun ternyata dugaan saya salah.
Nadia justru mengatakan bahwa seseorang tidak seharusnya dinilai hanya berdasarkan masalah masa lalunya. Menurutnya, setiap orang berhak memulai kehidupan dan hubungan yang baru.

Meski begitu, saya masih merasa ragu.
Saya mengatakan kepadanya bahwa rasanya mustahil seorang perempuan yang belum pernah menikah seperti dirinya mau menerima seseorang dengan latar belakang seperti saya.
Namun sekali lagi, Nadia meyakinkan saya.

Baginya, status dan masalah masa lalu bukanlah ukuran untuk menentukan apakah seseorang pantas dicintai atau tidak.

<banner 500x600
banner 120x600
Example 400x400