Perubahan itu memang kecil, tetapi cukup membuat saya bertanya-tanya.
Rasa penasaran saya semakin besar ketika perubahan-perubahan kecil tersebut terus berulang.
Naluri saya mengatakan bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan, meskipun saat itu saya belum memiliki alasan maupun bukti yang jelas untuk menyimpulkan apa pun.
Beberapa hari kemudian, Nadia meminta izin kepada saya untuk menghadiri acara buka puasa bersama rekan-rekan kantornya.
Saat itu, ia mengenakan gaun berwarna hitam.
Sebelum berangkat, ia berpamitan seperti biasa dan saya mengizinkannya.
Namun, selama acara berlangsung, saya mulai merasakan sesuatu yang berbeda.
Nadia yang biasanya cukup cepat membalas pesan WhatsApp saya, malam itu justru sangat sulit dihubungi.
Pesan-pesan yang saya kirim hanya dibaca setelah cukup lama.
Bahkan, beberapa di antaranya tidak langsung direspons.
Padahal menurut saya, acara buka bersama bukanlah kegiatan yang sepenuhnya formal.
Masih sangat memungkinkan bagi seseorang untuk sekadar membalas satu atau dua pesan singkat.
Perubahan sikap itu mulai menimbulkan tanda tanya dalam benak saya.
Setelah acara selesai, kami memang sudah berjanji untuk pergi berjalan-jalan menggunakan sepeda motor.
Sebelum berangkat, saya sempat memegang telepon genggam Nadia.
Hal itu bukan sesuatu yang aneh bagi kami, karena sejak awal hubungan, Nadia mengajarkan bahwa kami tidak perlu saling menyembunyikan sesuatu.
Bagi kami saat itu, kepercayaan merupakan bagian penting dalam hubungan.
Saya tidak pernah berpikir bahwa sebuah telepon genggam akan menjadi sesuatu yang penting dalam hubungan kami.
Saya juga tidak pernah membayangkan bahwa perubahan kecil dalam kebiasaan seseorang pada akhirnya dapat membuat saya mempertanyakan begitu banyak hal.
Saat itu saya masih berusaha berpikir positif.
Saya tidak ingin menuduh Nadia tanpa alasan.
Saya tidak ingin mengubah rasa percaya menjadi kecurigaan hanya karena beberapa perubahan kecil.
Namun, semakin banyak perubahan yang saya rasakan, semakin sulit bagi saya untuk mengabaikannya.
Saya mulai bertanya kepada diri sendiri:
Apakah ini hanya perasaan saya?
Apakah saya terlalu berlebihan?
Ataukah memang ada sesuatu yang berubah dalam hubungan kami?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlahan mulai memenuhi pikiran saya.
Saya masih mencintai Nadia.
Saya masih ingin mempertahankan hubungan tersebut.
Namun, untuk pertama kalinya sejak kami bertemu di tengah guyuran hujan itu, saya mulai merasakan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ada di antara kami:
keraguan.
Dan sejak saat itulah, perjalanan hubungan kami mulai memasuki babak yang berbeda.
Saya sudah menyatukan seluruh bagian dari perkenalan sampai bagian terakhir yang Anda kirim, dengan alur waktu dan transisi yang lebih rapi. Kalau ada bagian berikutnya, kirim saja saya bisa langsung sambungkan dari kalimat terakhir tanpa mengulang dari awal.





