Buser Official NET. Nusa Tenggara Barat – Perkenalan ini terjadi tanpa pernah saya rencanakan.
Saat itu, saya bersama Bima dan Aldi berangkat menggunakan mobil menuju sebuah rumah kontrakan yang sebelumnya telah disewa oleh Rita atas permintaan Bima. Rumah tersebut rencananya akan ditempati oleh kerabatnya, Aldi. Rita sendiri merupakan istri Bima.
Di tengah guyuran hujan, kami bertiga menuju lokasi tersebut. Sesampainya di rumah kontrakan, kami bertemu dengan Rita dan bersama-sama membantu mengemas barang-barang milik Aldi.
Namun, setelah melihat kondisi rumah, Aldi merasa kurang nyaman untuk menempatinya.
Tanpa berpikir panjang, Bima kemudian mengajak kami menuju rumah milik adik Rita yang letaknya tidak jauh dari sana.
Ketika kami tiba, hujan masih turun dengan deras. Kami memasuki halaman rumah tersebut dan untuk pertama kalinya saya bertemu dengan adik perempuan Rita yang bernama Nadia.
Saat kami datang, Nadia hanya memandang kedatangan kami tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia berdiri sambil menikmati hujan yang masih mengguyur.
Di dalam rumah juga terdapat dua orang perempuan yang saya ketahui merupakan kerabat Nadia. Kedatangan kami tampaknya membuat kedua perempuan tersebut sedikit terkejut sekaligus penasaran.
Kami akhirnya menempati salah satu kamar yang memang kosong dan jarang digunakan. Di sana kami duduk, berbincang, dan menikmati rokok.
Sebelumnya, Rita sebenarnya telah membujuk Nadia agar bersedia menerima kedatangan kami bertiga. Namun, Nadia sempat menolak.
Alasannya sederhana. Ia tinggal seorang diri sehingga merasa kurang nyaman menerima tamu laki-laki untuk menginap, terlebih kedatangan kami dilakukan tanpa pemberitahuan yang cukup.
Karena kami sudah terlanjur datang, Nadia berada dalam posisi yang tidak mudah untuk menolak secara langsung. Rita tampak kecewa dengan penolakan tersebut.
Ia kemudian menjelaskan bahwa rumah itu memang ditempati oleh adiknya, seorang perempuan berusia sekitar 26 tahun. Dialah Nadia.
Meski demikian, Nadia tetap mempertahankan pendiriannya. Ia menyampaikan berbagai alasan yang menurutnya wajar demi menjaga kenyamanan dan keamanan dirinya sebagai seorang perempuan yang tinggal seorang diri di rumah tersebut.
Melihat Nadia yang masih terlihat kurang nyaman, Aldi akhirnya mengajak kami berdiskusi untuk mencari tempat lain yang lebih cocok untuk ditempatinya.
Karena masih ada beberapa keperluan di rumah kontrakan yang sebelumnya disewa Rita, saya pun berpamitan untuk keluar.
Saat melangkah menuju halaman, saya melihat Nadia sedang berdiri menikmati hujan yang turun di depan rumahnya.
Saya kemudian hanya sekadar menyapa dan mencoba membuka percakapan.





